Subscribe Us


Jumat, 03 Juli 2015

Nama-Nama yang belum Daftar OSPEK UNY, Mohon Di Cermati

https://drive.google.com/file/d/0B4RovRf1JUy_QmplMEhhTERlQmM/view?usp=sharing

Nama-Nama yang belum Daftar OSPEK UNY, Mohon Di Cermati

https://drive.google.com/file/d/0B4RovRf1JUy_QmplMEhhTERlQmM/view?usp=sharing

Selasa, 30 Juni 2015

Tanggal-Tanggal Penting Tutorial PAI

Tanggal-Tanggal Penting Tutorial PAI

JADWAL ESQ Untuk MAHASISWA BARU UNY 2015

Mohon di Cermati






JADWAL ESQ Untuk MAHASISWA BARU UNY 2015

Mohon di Cermati






Rabu, 17 Juni 2015

alur untuk calon mahasiswa baru jalur SNMPTN



Terkait sudah adanya pengumuman verifikasi jalur SNMPTN 2015, berikut ini adalah alur untuk calon mahasiswa baru jalur SNMPTN:
1. Calon mahasiswa baru Non bidikmisi melakukan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada tanggal 19-24 juni 2015 secara online di bank BTN, BNI, Mandiri kantor cabang seluruh indonesia atau bank BPD DIY dengan menunjukkan nomor bukti pendaftaran SNMPTN 2015. Nantinya calon mahasiswa baru akan mendapat PIN registrasi.
2. Calon mahasiswa bidikmisi tidak membayar UKT
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan pada tanggal 23-26 juni 2015 di Hall tenis meja UNY mulai pukul 06.00-selesai
Adapun pembagian jadwalnya adalah sebagai berikut :
- Selasa 23 juni 2015 FIP dan FE (seluruh prodi)
- Rabu 24 juni 2015 FMIPA dan FIK (seluruh prodi)
- Kamis 25 juni 2015 FIS dan FT (semua prodi kecuali PT. Boga dan Busana)
- Jumat 26 juni 2015 FBS dan FT (PT. Boga dan Busana)
4. Melakukan registrasi pada tanggal 23-26 juni 2015 secara online melalui laman http://registrasi.uny.ac.id
Calon mahasiswa jalur SNMPTN Non-Bidikmisi menggunakan nomor pendaftaran SNMPTN dan PIN yang tercetak di kwitansi pembayaran UKT dari bank. Untuk peserta SNMPTN bidikmisi menggunakan KAP SNMPTN 2015. Calon mahasiswa harus mencetak data registrasi online melalui menu yg telah disediakan
5. Melengkapi dokumen registrasi dan foto pembuatan KTM pada tanggal 23-26 juni 2015 di Subbagian Registrasi (Rektorat sayap timur) dengan prosedur sebagai berikut :
- Menunjukkan tanda peserta SNMPTN 2015 dan fotocopy-annya.
- Menunjukkan ijazah asli dan surat keterangan lulus (bagi yg belum mempunyai ijazah) yang telah dilegalisir.
- Menunjukkan kwitansi pembayaran UKT (non bidikmisi) & kartu peserta pendaftaran bidikmisi (bidikmisi)
- Menyerahkan surat ganti nama bagi yang pernah ganti nama
- Menyerahkan surat pernyataan patuh terhadap etika Mahasiswa UNY dan bebas narkoba, masing-masing bermaterai Rp. 6000 (blangko surat pernyataan diunduh di laman http://registrasi.uny.ac.id setelah melakukan registrasi secara online)
- Menyerahkan hasil cetakan registrasi online
6. Berkonsultasi dengan penasehat akademik untuk pengisian dan entry data kartu rencana studi di fakultas masing-masing pada tanggal 23-26 juni 2015
7. Mengikuti OSPEK tanggal 24-28 Agustus 2015
8. Mengikuti ESQ 27 juli-11 agustus 2015 (Menyesuaikan pembagian jadwal per-fakultas)
9. Mengikuti proTEFL (jadwal menyusul)
Pusat Informasi Mahasiswa
Baru UNY 2015
BEM REMA UNY 2015
Kabinet Bangkit Bersama

alur untuk calon mahasiswa baru jalur SNMPTN



Terkait sudah adanya pengumuman verifikasi jalur SNMPTN 2015, berikut ini adalah alur untuk calon mahasiswa baru jalur SNMPTN:
1. Calon mahasiswa baru Non bidikmisi melakukan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada tanggal 19-24 juni 2015 secara online di bank BTN, BNI, Mandiri kantor cabang seluruh indonesia atau bank BPD DIY dengan menunjukkan nomor bukti pendaftaran SNMPTN 2015. Nantinya calon mahasiswa baru akan mendapat PIN registrasi.
2. Calon mahasiswa bidikmisi tidak membayar UKT
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan pada tanggal 23-26 juni 2015 di Hall tenis meja UNY mulai pukul 06.00-selesai
Adapun pembagian jadwalnya adalah sebagai berikut :
- Selasa 23 juni 2015 FIP dan FE (seluruh prodi)
- Rabu 24 juni 2015 FMIPA dan FIK (seluruh prodi)
- Kamis 25 juni 2015 FIS dan FT (semua prodi kecuali PT. Boga dan Busana)
- Jumat 26 juni 2015 FBS dan FT (PT. Boga dan Busana)
4. Melakukan registrasi pada tanggal 23-26 juni 2015 secara online melalui laman http://registrasi.uny.ac.id
Calon mahasiswa jalur SNMPTN Non-Bidikmisi menggunakan nomor pendaftaran SNMPTN dan PIN yang tercetak di kwitansi pembayaran UKT dari bank. Untuk peserta SNMPTN bidikmisi menggunakan KAP SNMPTN 2015. Calon mahasiswa harus mencetak data registrasi online melalui menu yg telah disediakan
5. Melengkapi dokumen registrasi dan foto pembuatan KTM pada tanggal 23-26 juni 2015 di Subbagian Registrasi (Rektorat sayap timur) dengan prosedur sebagai berikut :
- Menunjukkan tanda peserta SNMPTN 2015 dan fotocopy-annya.
- Menunjukkan ijazah asli dan surat keterangan lulus (bagi yg belum mempunyai ijazah) yang telah dilegalisir.
- Menunjukkan kwitansi pembayaran UKT (non bidikmisi) & kartu peserta pendaftaran bidikmisi (bidikmisi)
- Menyerahkan surat ganti nama bagi yang pernah ganti nama
- Menyerahkan surat pernyataan patuh terhadap etika Mahasiswa UNY dan bebas narkoba, masing-masing bermaterai Rp. 6000 (blangko surat pernyataan diunduh di laman http://registrasi.uny.ac.id setelah melakukan registrasi secara online)
- Menyerahkan hasil cetakan registrasi online
6. Berkonsultasi dengan penasehat akademik untuk pengisian dan entry data kartu rencana studi di fakultas masing-masing pada tanggal 23-26 juni 2015
7. Mengikuti OSPEK tanggal 24-28 Agustus 2015
8. Mengikuti ESQ 27 juli-11 agustus 2015 (Menyesuaikan pembagian jadwal per-fakultas)
9. Mengikuti proTEFL (jadwal menyusul)
Pusat Informasi Mahasiswa
Baru UNY 2015
BEM REMA UNY 2015
Kabinet Bangkit Bersama

Pengumuman Untuk Mahasiswa UNY khususnya Jurusan PKnH



Informasi :
Berdasarkan surat Nomor 84/UN34/KM/2015
Terkait pengumuman beasiswa PPA dan BBP PPA tahun 2015
Bahwasanya untuk memperlancar proses pengajuan pencairan
1. Bagi penerima beasiswa PPA dan BBP PPA yang sudah memiliki rekening bank di BNI 1946 diharap menyerahakan poto copy KTM dan rekening ke Bagian Kemahasiswaan Rektorat
2. Bagi penerima beasiswa yang belum memiliki rekening Bank BNI diharap segera melapor ke Bagian Kemahasiswaan rektorat paling lambat tanggal 19 juni 2015 s/d pukul 14.00 WIB
Sumber : kemahasiswaan.uny.ac.id

BEM REMA UNY 2015
Kabinet Bangkit Bersama

Pengumuman Untuk Mahasiswa UNY khususnya Jurusan PKnH



Informasi :
Berdasarkan surat Nomor 84/UN34/KM/2015
Terkait pengumuman beasiswa PPA dan BBP PPA tahun 2015
Bahwasanya untuk memperlancar proses pengajuan pencairan
1. Bagi penerima beasiswa PPA dan BBP PPA yang sudah memiliki rekening bank di BNI 1946 diharap menyerahakan poto copy KTM dan rekening ke Bagian Kemahasiswaan Rektorat
2. Bagi penerima beasiswa yang belum memiliki rekening Bank BNI diharap segera melapor ke Bagian Kemahasiswaan rektorat paling lambat tanggal 19 juni 2015 s/d pukul 14.00 WIB
Sumber : kemahasiswaan.uny.ac.id

BEM REMA UNY 2015
Kabinet Bangkit Bersama

Ospek : Selamat Datang Calon Cendekiawan Muda Indonesia

In Sekertariat HIMA PKnH

PKnH Post. Mahasiswa adalah kaum intelektual muda yang di gadang gadang untuk menjadi agent perubahan di masa sekarang dan akan datang. Gelar Mahasiswa yang di sematkan tidak serta merta, namun mempunyai historis yang amat penting dalam republik ini. Bulan Mei- September tahun 2015 merupakan bulan yang amat penting karena siswa SMA/SMK/MA sederajat kebanyakan akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi seperti PTn. Persiapan demi persiapan terus dilakukan demi ingin masuk perguruan tinggi negeri. Siswa yang daftar saja mencapai 800 ribu lebih (Data  SNMPTn Panitia Pusat). Padahal siswa juga yang belum diterima oleh PTn melalui jalur SNMPTN tersebut masih bisa mendaftar jalur SBMPTN, SM ataupun jalur khusus (seperti Kerja Sama).  Ketika semua data yang telah diterima lewat jalur-jalur itu, calon mahasiswa itu akan menempuh beberapa acara seperti Ospek yang sebagai prasayarat diterimanya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Contohnya saja Universitas Negeri Yogyakarta yang tiap tahunnya mengadakan Ospek selama 5 Hari.

Menjelang Ospek

Tidak hanya siswa yang melakukan persiapan demi persiapan, akan tetapi mahasiswa juga demikian. seperti persiapan untuk menjalankan Ospek dan Makrab. Ospek yang akan di kemas biasanya akan mempunyai kekhasan dan kenangan tersendiri. Universitas Negeri Yogyakarta yangtiap tahunnya selalu mengemas ospek selama 5 hari : 3 Hari Universitas di Gor UNY dan 2 Fakultas dan Jurusan. Panitia Ospek baik Universitas, Fakultas hingga jurusan hari demi hari terus mempersiapkan acara ospek supaya berkesan. Seperti Panitia Ospek jurusan PKnH FIS UNY yang dalam acara yang di kemas akan berbeda dengan tahun yang lalu. acara demi acara terus dicanangkan dan di rapatkan agar sesuai dengan tujuan ospek. Panitia OSEK dan pengurus HIMA PKnH merapatkan barisannya agar mahasiswa baru yang merupakan calon cendekiawan bisa merasakan Senangnya ospek Jurusan tanpa ada Kekerasan. SeLamat Datang Mahasiswa Baru  #PKnH #Vamos Pancasila




Rapat Ospek dan Rapat PH-PI HIMA PKnH




Moment Rapat


Rapat



Ospek : Selamat Datang Calon Cendekiawan Muda Indonesia

In Sekertariat HIMA PKnH

PKnH Post. Mahasiswa adalah kaum intelektual muda yang di gadang gadang untuk menjadi agent perubahan di masa sekarang dan akan datang. Gelar Mahasiswa yang di sematkan tidak serta merta, namun mempunyai historis yang amat penting dalam republik ini. Bulan Mei- September tahun 2015 merupakan bulan yang amat penting karena siswa SMA/SMK/MA sederajat kebanyakan akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi seperti PTn. Persiapan demi persiapan terus dilakukan demi ingin masuk perguruan tinggi negeri. Siswa yang daftar saja mencapai 800 ribu lebih (Data  SNMPTn Panitia Pusat). Padahal siswa juga yang belum diterima oleh PTn melalui jalur SNMPTN tersebut masih bisa mendaftar jalur SBMPTN, SM ataupun jalur khusus (seperti Kerja Sama).  Ketika semua data yang telah diterima lewat jalur-jalur itu, calon mahasiswa itu akan menempuh beberapa acara seperti Ospek yang sebagai prasayarat diterimanya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Contohnya saja Universitas Negeri Yogyakarta yang tiap tahunnya mengadakan Ospek selama 5 Hari.

Menjelang Ospek

Tidak hanya siswa yang melakukan persiapan demi persiapan, akan tetapi mahasiswa juga demikian. seperti persiapan untuk menjalankan Ospek dan Makrab. Ospek yang akan di kemas biasanya akan mempunyai kekhasan dan kenangan tersendiri. Universitas Negeri Yogyakarta yangtiap tahunnya selalu mengemas ospek selama 5 hari : 3 Hari Universitas di Gor UNY dan 2 Fakultas dan Jurusan. Panitia Ospek baik Universitas, Fakultas hingga jurusan hari demi hari terus mempersiapkan acara ospek supaya berkesan. Seperti Panitia Ospek jurusan PKnH FIS UNY yang dalam acara yang di kemas akan berbeda dengan tahun yang lalu. acara demi acara terus dicanangkan dan di rapatkan agar sesuai dengan tujuan ospek. Panitia OSEK dan pengurus HIMA PKnH merapatkan barisannya agar mahasiswa baru yang merupakan calon cendekiawan bisa merasakan Senangnya ospek Jurusan tanpa ada Kekerasan. SeLamat Datang Mahasiswa Baru  #PKnH #Vamos Pancasila




Rapat Ospek dan Rapat PH-PI HIMA PKnH




Moment Rapat


Rapat



Selasa, 16 Juni 2015

Profil Jurusan


Program Studi (sekaligus Jurusan) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara resmi diselenggarakan melalui SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No. 55 Tahun 1963, tanggal 22 Mei 1963, dengan nama program studi Civics-Hukum (CH), sebagai bagian dari Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial (FKPS).
Dalam iklim digencarkannya semangat “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen” oleh pemerintahan Orde Baru, pada tahun 1970-an Program studi CH berganti nama menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP).
Terjadi perubahan nama lagi pada tahun 1980-an menjadi Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMPKn). Penambahan kembali kata kewarganegaraan menyiratkan pentingnya kajian keilmuan dalam rangka penguatan warga negara. Pada tahun 1995, kata “moral” dihilangkan dari nama Jurusan/Prodi. Nama Jurusan/Prodi berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Lintasan sejarah tersebut menyiratkan mudahnya intervensi rezim dalam pendidikan kewarganegaraan. Berpijak pada realitas tersebut, menguat hasrat untuk memperkuat keilmuan dalam kajian kewarganegaraan pada umumnya, yang secara khusus tampak dari penamaan Program Studi.
Seiring dengan perluasan mandat (wider mandate) IKIP Yogyakarta dari institut menjadi Universitas pada tahun 1999, dibuka berbagai program non kependidikan untuk menunjang program-program studi kependidikan. Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan bermaksud membuka Program Studi baru, yaitu ilmu hukum. Sejak tahun 2005 nama jurusan berganti menjadi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH), dengan sementara satu Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Perubahan tersebut bersamaan dengan kegigihan masyarakat kampus (khususnya Program Studi PKn UNY) untuk mewujudkan pendidikan kewarganegaraan dengan keilmuan yang kokoh (established), sebagamana yang terjadi di berbagai negara yang dikenal dengan civic education, citizenship, citizenship education, dan sebagainya. Oleh karena itu, lahir apa yang kini disebut sebagai paradigma baru pendidikan kewarganegaraan(new paradigm of civic education). Program Studi PKn UNY termasuk salah satu lembaga perintis paradigma baru PKn.

Sumber : pknfisuny.wordpress.com

Profil Jurusan


Program Studi (sekaligus Jurusan) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara resmi diselenggarakan melalui SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No. 55 Tahun 1963, tanggal 22 Mei 1963, dengan nama program studi Civics-Hukum (CH), sebagai bagian dari Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial (FKPS).
Dalam iklim digencarkannya semangat “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen” oleh pemerintahan Orde Baru, pada tahun 1970-an Program studi CH berganti nama menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP).
Terjadi perubahan nama lagi pada tahun 1980-an menjadi Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMPKn). Penambahan kembali kata kewarganegaraan menyiratkan pentingnya kajian keilmuan dalam rangka penguatan warga negara. Pada tahun 1995, kata “moral” dihilangkan dari nama Jurusan/Prodi. Nama Jurusan/Prodi berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Lintasan sejarah tersebut menyiratkan mudahnya intervensi rezim dalam pendidikan kewarganegaraan. Berpijak pada realitas tersebut, menguat hasrat untuk memperkuat keilmuan dalam kajian kewarganegaraan pada umumnya, yang secara khusus tampak dari penamaan Program Studi.
Seiring dengan perluasan mandat (wider mandate) IKIP Yogyakarta dari institut menjadi Universitas pada tahun 1999, dibuka berbagai program non kependidikan untuk menunjang program-program studi kependidikan. Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan bermaksud membuka Program Studi baru, yaitu ilmu hukum. Sejak tahun 2005 nama jurusan berganti menjadi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH), dengan sementara satu Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Perubahan tersebut bersamaan dengan kegigihan masyarakat kampus (khususnya Program Studi PKn UNY) untuk mewujudkan pendidikan kewarganegaraan dengan keilmuan yang kokoh (established), sebagamana yang terjadi di berbagai negara yang dikenal dengan civic education, citizenship, citizenship education, dan sebagainya. Oleh karena itu, lahir apa yang kini disebut sebagai paradigma baru pendidikan kewarganegaraan(new paradigm of civic education). Program Studi PKn UNY termasuk salah satu lembaga perintis paradigma baru PKn.

Sumber : pknfisuny.wordpress.com

Rabu, 10 Juni 2015

Mahasiswa Baru dan Politik Kota

Halili, M.A
Seluruh perguruan tinggi negeri telah melaksanakan salah satu hajat penting yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2015. Sejalan dengan daya tampung nasional yang meningkat hampir 8,9% dari tahun lalu, daya tampung PTN di Jogja tahun ini juga meningkat.
Sebagai Kota Pendidikan, Jogja akan segera kedatangan warga baru dalam jumlah besar. Mengacu pada daya tampung 6 PTN melalui SBMPTN saja, tiga puluh ribuan mahasiswa baru akan menyerbu Daerah Istimewa ini, belum lagi mahasiswa baru PTS. Dalam perspektif politik kota, situasi tersebut harus mendapat respons kebijakan yang memadai dari pemangku kebijakan, terutama Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kota dan Kabupaten penyangganya.
Politik kota (urban politics) yang dimaksud tentulah relasi kuasa yang berkenaan dengan aktivitas dan hidup masyarakat mulai mencicipi arena perkotaan (urbanized communities). Politik kota berkaitan dengan aktivitas produksi dan reproduksi hidup mereka, yang melibatkan konflik dan kerjasama, yang mengarah pada munculnya masalah dan resolusinya melalui pembuatan kebijakan kolektif (Gerry Stoker, 1995).
Keberadaan mahasiswa baru dalam jumlah besar, tentu memberikan beberapa dampak positif, antara lain, pertama, secara kultural urbanisasi calon-calon sivitas akademika tersebut akan terus meneguhkan status dan posisi Jogja sebagai “kawah candradimuka” kaum terdidik di Indonesia.  
Kedua, bagi pertumbuhan ekonomi, tentu ini memberikan kabar baik. Potensi konsumsi para warga kelas menengah akan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Pengarusutamaan (mainstreaming)program kewirausahaan melalui perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta tentu akan menjadi insentif tambahan bagi perekonomian Jogja.
Namun demikian, kehadiran mahasiswa baru dalam jumlah besar itu tentu akan memunculkan masalah-masalah perkataan baru (urban issues). Pertama, potensi ketegangan dan konflik sosial. Pemerintah daerah harus memiliki prakarsa yang memadai untuk meminimalisasi konflik sosial atau ketegangan komunal. Keberadaan kantong-kantong sosial berbasis daerah, suku, dan etnis, yang juga beririsan dengan agama dan tradisi, berpotensi menimbulkan gesekan-gesekan.
Secara faktual, pengalaman ketegangan sosial pasca “kasus premanisme” di LP Cebongan telah mendorong polarisasi “milisi-milisi” kedaerahan. Mahasiswa-mahasiswa berbasis daerah yang gagal menuntaskan studi secara optimal sesuai tujuan awal mereka ke Jogja, mulai banyak menimbulkan masalah sosial-keamanan baru. Hal ini diwarnai dengan konteks industrial baru, dimana jasa keamanan merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Kalau pemerintah tidak merespons situasi ini dengan kebijakan yang memadai, bukan tidak mungkin letupan-letupan premanisme dan konflik sosial berbasis kedaerahan akan marak, seperti yang kerapkali terjadi di Ibukota.
Kedua, segregasi sosial. Pemerintah daerah juga tidak bisa menutup mata atas kesenjangan sosial-ekonomi yang potensial muncul dari urbanisasi mahasiswa baru. Mahasiswa-mahasiswa yang menempuh studi di Yogyakarta sebagian besar berasal dan menampilkan perilaku kelas menengah yang berpotensi bergesekan dengan kearifan kultural dan pola kolektif perilaku masyarakat lokal.
Ketiga, kemacetan kota. Kedatangan mahasiswa baru tentu akan menambah volume kendaraan di Jogja. Apalagi, pada kenyataannya warga yang datang untuk studi tidak berbanding lurus dengan warga yang pergi karena sudah menuntaskan studi.  
Keempat, potensi jaringan kriminalitas, khususnya narkoba. Sinyalemen bahwa kos-kosan dan asrama mahasiswa Jogja merupakan sarang narkoba sudah sangat benderang.
Dalam perspektif politik kota, pemerintah dan masyarakat sipil merupakan agen utama pembuatan keputusan bersama untuk kepentingan bersama kehidupan masyarakat kota. Kedatangan mahasiswa baru tentu tidak bisa kita baca sebagai inti masalah yang muncul di kota. Masalah-masalah ekoran dari urbanisasi mahasiswa baru sesungguhnya hanyalah ujian bagi keseriusan kota dalam melaksanakan fungsi puclic service dan decision-making.
Di samping itu, partisipasi masyarakat sipil memainkan peran yang besar, terutama dalam pendidikan kewargaan untuk menjadikan mereka sebagai warga yang cerdas (smart citizen). Tanpa warga cerdas, kota akan berubah menjadi arena bagi berlakunya hukum rimba: yang kuatlah yang menang!



Halili, M.A
Koordinator Link De HAM FIS UNY & Dosen PKnH FIS UNY

Artikel ini di buat dalam Opini Tribun Jogja, 10 Juni 2015 di Kutip dari http://www.kompasiana.com/halilintarputrapetir

Mahasiswa Baru dan Politik Kota

Halili, M.A
Seluruh perguruan tinggi negeri telah melaksanakan salah satu hajat penting yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2015. Sejalan dengan daya tampung nasional yang meningkat hampir 8,9% dari tahun lalu, daya tampung PTN di Jogja tahun ini juga meningkat.
Sebagai Kota Pendidikan, Jogja akan segera kedatangan warga baru dalam jumlah besar. Mengacu pada daya tampung 6 PTN melalui SBMPTN saja, tiga puluh ribuan mahasiswa baru akan menyerbu Daerah Istimewa ini, belum lagi mahasiswa baru PTS. Dalam perspektif politik kota, situasi tersebut harus mendapat respons kebijakan yang memadai dari pemangku kebijakan, terutama Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kota dan Kabupaten penyangganya.
Politik kota (urban politics) yang dimaksud tentulah relasi kuasa yang berkenaan dengan aktivitas dan hidup masyarakat mulai mencicipi arena perkotaan (urbanized communities). Politik kota berkaitan dengan aktivitas produksi dan reproduksi hidup mereka, yang melibatkan konflik dan kerjasama, yang mengarah pada munculnya masalah dan resolusinya melalui pembuatan kebijakan kolektif (Gerry Stoker, 1995).
Keberadaan mahasiswa baru dalam jumlah besar, tentu memberikan beberapa dampak positif, antara lain, pertama, secara kultural urbanisasi calon-calon sivitas akademika tersebut akan terus meneguhkan status dan posisi Jogja sebagai “kawah candradimuka” kaum terdidik di Indonesia.  
Kedua, bagi pertumbuhan ekonomi, tentu ini memberikan kabar baik. Potensi konsumsi para warga kelas menengah akan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Pengarusutamaan (mainstreaming)program kewirausahaan melalui perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta tentu akan menjadi insentif tambahan bagi perekonomian Jogja.
Namun demikian, kehadiran mahasiswa baru dalam jumlah besar itu tentu akan memunculkan masalah-masalah perkataan baru (urban issues). Pertama, potensi ketegangan dan konflik sosial. Pemerintah daerah harus memiliki prakarsa yang memadai untuk meminimalisasi konflik sosial atau ketegangan komunal. Keberadaan kantong-kantong sosial berbasis daerah, suku, dan etnis, yang juga beririsan dengan agama dan tradisi, berpotensi menimbulkan gesekan-gesekan.
Secara faktual, pengalaman ketegangan sosial pasca “kasus premanisme” di LP Cebongan telah mendorong polarisasi “milisi-milisi” kedaerahan. Mahasiswa-mahasiswa berbasis daerah yang gagal menuntaskan studi secara optimal sesuai tujuan awal mereka ke Jogja, mulai banyak menimbulkan masalah sosial-keamanan baru. Hal ini diwarnai dengan konteks industrial baru, dimana jasa keamanan merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Kalau pemerintah tidak merespons situasi ini dengan kebijakan yang memadai, bukan tidak mungkin letupan-letupan premanisme dan konflik sosial berbasis kedaerahan akan marak, seperti yang kerapkali terjadi di Ibukota.
Kedua, segregasi sosial. Pemerintah daerah juga tidak bisa menutup mata atas kesenjangan sosial-ekonomi yang potensial muncul dari urbanisasi mahasiswa baru. Mahasiswa-mahasiswa yang menempuh studi di Yogyakarta sebagian besar berasal dan menampilkan perilaku kelas menengah yang berpotensi bergesekan dengan kearifan kultural dan pola kolektif perilaku masyarakat lokal.
Ketiga, kemacetan kota. Kedatangan mahasiswa baru tentu akan menambah volume kendaraan di Jogja. Apalagi, pada kenyataannya warga yang datang untuk studi tidak berbanding lurus dengan warga yang pergi karena sudah menuntaskan studi.  
Keempat, potensi jaringan kriminalitas, khususnya narkoba. Sinyalemen bahwa kos-kosan dan asrama mahasiswa Jogja merupakan sarang narkoba sudah sangat benderang.
Dalam perspektif politik kota, pemerintah dan masyarakat sipil merupakan agen utama pembuatan keputusan bersama untuk kepentingan bersama kehidupan masyarakat kota. Kedatangan mahasiswa baru tentu tidak bisa kita baca sebagai inti masalah yang muncul di kota. Masalah-masalah ekoran dari urbanisasi mahasiswa baru sesungguhnya hanyalah ujian bagi keseriusan kota dalam melaksanakan fungsi puclic service dan decision-making.
Di samping itu, partisipasi masyarakat sipil memainkan peran yang besar, terutama dalam pendidikan kewargaan untuk menjadikan mereka sebagai warga yang cerdas (smart citizen). Tanpa warga cerdas, kota akan berubah menjadi arena bagi berlakunya hukum rimba: yang kuatlah yang menang!



Halili, M.A
Koordinator Link De HAM FIS UNY & Dosen PKnH FIS UNY

Artikel ini di buat dalam Opini Tribun Jogja, 10 Juni 2015 di Kutip dari http://www.kompasiana.com/halilintarputrapetir

Selasa, 09 Juni 2015

Bersatu Mendukung Negeri

Qory Handayani

Hari lahir Pancasila kembali kita peringati pada 1 Juni lalu, ingatan kita tentu kembali menerawang pada 70 tahun lalu, saat kata Pancasila mulai diperkenalkan.

Sepanjang perjalanan itu, nilai-nilai Pancasila bisa kita jabarkan implementasinya dalam luasnya keseharian kita. Nilai kereligiusan masih tetap kita pegang, pembuktian bahwa negara Indonesia bukan negara sekuler masih dapat kita lihat. Namun melihat implementasi sila-sila selanjutnya yang seharusnya dijiwai oleh implementasi sila pertama, masih perlu kita evaluasi.

Bagaimanapun, di balik perbedaan keyakinan, nilai penghargaan terhadap masing-masing hak warga negara tetap harus kita junjung. Biarkan mereka mempercayai apa yang mereka yakini asal tidak berseberangan dengan nilai normatif yang telah kita anut. Memang benar bahwa Indonesia mulai berubah, kesederhanaan telah berubah melalui peran kecanggihan teknologi yang kemudian memberikan kemudahan serta menunjang aktivitas demi kemajuan bangsa.

Benar bahwa kita membutuhkan teknologi itu agar tidak tertinggal, tapi juga tetap harus meningkatkan kualitas diri agar tidak sekadar menjadi konsumen dan terjajah secara halus dari negara lain. Mengapa kita begitu bangga akan pemakaian suatu merek luar. Bukankah seharusnya kita turut bersatu dalam kerendahan hati tanpa mencemooh produk dalam negeri dan mendukung negeri?

Mengapa kita begitu pesimistis dengan negara kita sendiri? Siapa lagi yang akan membantu, saat kita membiarkan saudara kita berjuang sendirian melawan beratnya arus pasar bebas? Karena bangsa asinglah yang akan menuai hasil saat kita berhasil mereka perbudak. Hukum di Indonesia juga lebih berkembang. Lembaga negara lebih tertata dan letaknya sejajar, namun mereka tetap harus melihat arti penting sila keempat dapat dilihat dari proses penyelenggaraan negara.

Perlu peran kita sebagai warga negara untuk mengawasi, perlu ada kesadaran bagi rezim yang sedang berkuasa untuk memberikan bukti. Musyawarah untuk mencapai kemaslahatan memang tidak mudah, perlu pikiran yang kuat, waktu yang lebih lama, dan tenaga bahkan biaya yang tak sedikit pula. Namun, di situlah letak esensinya. Pengharapan kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil juga sangat diinginkan.

Penanganan ekonomi perlu diperhatikan agar nilai sila kelima dapat segera terlihat perwujudannya, agar isi sila tidak berubah menjadi ”keadilan sosial bagi seluruh (wakil) rakyat Indonesia”.

Qori Handayani
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, Anggota LinkDeham (Lingkar Kajian demokrasi dan Hak Asasi Manusia) Universitas Negeri Yogyakarta

Opini ini adalah Publikasi dari http://www.koran-sindo.com/read/1010453/161/bersatu-mendukung-negeri-1433819971

Bersatu Mendukung Negeri

Qory Handayani

Hari lahir Pancasila kembali kita peringati pada 1 Juni lalu, ingatan kita tentu kembali menerawang pada 70 tahun lalu, saat kata Pancasila mulai diperkenalkan.

Sepanjang perjalanan itu, nilai-nilai Pancasila bisa kita jabarkan implementasinya dalam luasnya keseharian kita. Nilai kereligiusan masih tetap kita pegang, pembuktian bahwa negara Indonesia bukan negara sekuler masih dapat kita lihat. Namun melihat implementasi sila-sila selanjutnya yang seharusnya dijiwai oleh implementasi sila pertama, masih perlu kita evaluasi.

Bagaimanapun, di balik perbedaan keyakinan, nilai penghargaan terhadap masing-masing hak warga negara tetap harus kita junjung. Biarkan mereka mempercayai apa yang mereka yakini asal tidak berseberangan dengan nilai normatif yang telah kita anut. Memang benar bahwa Indonesia mulai berubah, kesederhanaan telah berubah melalui peran kecanggihan teknologi yang kemudian memberikan kemudahan serta menunjang aktivitas demi kemajuan bangsa.

Benar bahwa kita membutuhkan teknologi itu agar tidak tertinggal, tapi juga tetap harus meningkatkan kualitas diri agar tidak sekadar menjadi konsumen dan terjajah secara halus dari negara lain. Mengapa kita begitu bangga akan pemakaian suatu merek luar. Bukankah seharusnya kita turut bersatu dalam kerendahan hati tanpa mencemooh produk dalam negeri dan mendukung negeri?

Mengapa kita begitu pesimistis dengan negara kita sendiri? Siapa lagi yang akan membantu, saat kita membiarkan saudara kita berjuang sendirian melawan beratnya arus pasar bebas? Karena bangsa asinglah yang akan menuai hasil saat kita berhasil mereka perbudak. Hukum di Indonesia juga lebih berkembang. Lembaga negara lebih tertata dan letaknya sejajar, namun mereka tetap harus melihat arti penting sila keempat dapat dilihat dari proses penyelenggaraan negara.

Perlu peran kita sebagai warga negara untuk mengawasi, perlu ada kesadaran bagi rezim yang sedang berkuasa untuk memberikan bukti. Musyawarah untuk mencapai kemaslahatan memang tidak mudah, perlu pikiran yang kuat, waktu yang lebih lama, dan tenaga bahkan biaya yang tak sedikit pula. Namun, di situlah letak esensinya. Pengharapan kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil juga sangat diinginkan.

Penanganan ekonomi perlu diperhatikan agar nilai sila kelima dapat segera terlihat perwujudannya, agar isi sila tidak berubah menjadi ”keadilan sosial bagi seluruh (wakil) rakyat Indonesia”.

Qori Handayani
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, Anggota LinkDeham (Lingkar Kajian demokrasi dan Hak Asasi Manusia) Universitas Negeri Yogyakarta

Opini ini adalah Publikasi dari http://www.koran-sindo.com/read/1010453/161/bersatu-mendukung-negeri-1433819971

Senin, 08 Juni 2015

SOSIALISASI TENTANG ETIKA MAHASISWA



Plagiat merupakan  perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan  sumber secara tepat dan memadai. Demikian ungkap Kepala Biro UPK UNY Drs. Setya Budi Takarina, M.Pd. dihadapan  42 Pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) terdiri dari Pengurus BEM, DPM dan UKM  Jumat kemarin dalam acara  sosialisasi tentang Etika Mahasiswa bertempat di Museum Pendidikan Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta.

Sementara Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes. dalam sambutan dan sekaligus membuka acara tersebut mengemukakan bahwa Bidang Kemahasiswaan   menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Kepala Biro UPK yang telah memprakarsai kegiatan ini, karena sangat tepat untuk memberikan pengertian tentang Etika Pergaulan bagi mahasiswa khususnya bagi  pemangku  jabatan/pengurus Ormawa di Kampus UNY sekalipun sampai saat ini tidak ada informasi atau masalah  memprihatinkan yang disampaikan ke bidang Kemahasiswaan.

Dalam sosialisasi ini dibagi menjadi 2 bagian, dimana yang pertama menyangkut tentang  Plagiasi yang diatur dalam Permendiknas No: 17 tahun 2010,  pencegahan dan  sanksi bagi mahasiswa disampaikan oleh Kepala Biro UPK, dibagian lain masalah “Etika dan Tata Tertib Pergaulan Mahasiswa di Kampus” disampaikan oleh Nurtanio Agus Purwanto, M.Pd. selaku Staf Ahli WR3 bidang Penalaran mengemukakan  bahwa Etika merupakan pedoman dalam bersikap dan berperilaku yang didalamnya berisi garis-garis besar  nilai moral dan  norma yang mencerminkan  masyarakat kampus yang ilmiah, edukatif, kreatif, santun dan bermartabat. Ini berbeda dengan Tata Tertib yang mencakup aturan-aturan tentang hak, kewajiban, pelanggaran, serta sanksi bagi mahasiswa sebagai salah satu bentuk pelaksanaan etika mahasiswa UNY.

Lebih lanjut Nurtanio menyinggung  masalah Azas Penerapan Etika dan Tata Tertib Pergaulan Mahasiswa meliputi: Tanggung jawab, Partisipasi, Keadilan, Kedamaian dan Kesantunan, ini sangat penting untuk dilakukan dalam pergaulan di kampus UNY, hal ini sudah terbukti  ketika alumni UNY yang bekerja di berbagai tempat selalu diberikan catatan yang khas yaitu tanggung jawab, ulet dan loyalitasnya tinggi. (Ap. Winata)

Sumber : http://kemahasiswaan.uny.ac.id


SOSIALISASI TENTANG ETIKA MAHASISWA



Plagiat merupakan  perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan  sumber secara tepat dan memadai. Demikian ungkap Kepala Biro UPK UNY Drs. Setya Budi Takarina, M.Pd. dihadapan  42 Pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) terdiri dari Pengurus BEM, DPM dan UKM  Jumat kemarin dalam acara  sosialisasi tentang Etika Mahasiswa bertempat di Museum Pendidikan Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta.

Sementara Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes. dalam sambutan dan sekaligus membuka acara tersebut mengemukakan bahwa Bidang Kemahasiswaan   menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Kepala Biro UPK yang telah memprakarsai kegiatan ini, karena sangat tepat untuk memberikan pengertian tentang Etika Pergaulan bagi mahasiswa khususnya bagi  pemangku  jabatan/pengurus Ormawa di Kampus UNY sekalipun sampai saat ini tidak ada informasi atau masalah  memprihatinkan yang disampaikan ke bidang Kemahasiswaan.

Dalam sosialisasi ini dibagi menjadi 2 bagian, dimana yang pertama menyangkut tentang  Plagiasi yang diatur dalam Permendiknas No: 17 tahun 2010,  pencegahan dan  sanksi bagi mahasiswa disampaikan oleh Kepala Biro UPK, dibagian lain masalah “Etika dan Tata Tertib Pergaulan Mahasiswa di Kampus” disampaikan oleh Nurtanio Agus Purwanto, M.Pd. selaku Staf Ahli WR3 bidang Penalaran mengemukakan  bahwa Etika merupakan pedoman dalam bersikap dan berperilaku yang didalamnya berisi garis-garis besar  nilai moral dan  norma yang mencerminkan  masyarakat kampus yang ilmiah, edukatif, kreatif, santun dan bermartabat. Ini berbeda dengan Tata Tertib yang mencakup aturan-aturan tentang hak, kewajiban, pelanggaran, serta sanksi bagi mahasiswa sebagai salah satu bentuk pelaksanaan etika mahasiswa UNY.

Lebih lanjut Nurtanio menyinggung  masalah Azas Penerapan Etika dan Tata Tertib Pergaulan Mahasiswa meliputi: Tanggung jawab, Partisipasi, Keadilan, Kedamaian dan Kesantunan, ini sangat penting untuk dilakukan dalam pergaulan di kampus UNY, hal ini sudah terbukti  ketika alumni UNY yang bekerja di berbagai tempat selalu diberikan catatan yang khas yaitu tanggung jawab, ulet dan loyalitasnya tinggi. (Ap. Winata)

Sumber : http://kemahasiswaan.uny.ac.id